Cara Penilaian TOEFL

Sebagai tes yang mengukur kemampuan dalam berbahasa Inggris bagi non-native english speaker, TOEFL akan mengukur kemampuan seseorang dalam berbahasa Inggris menggunakan skor atau angka dengan range tertentu.

Range atau kisaran skor TOEFL berbeda-beda tergantung jenis TOEFL yang diambil. Pasalnya, kisaran dan skor maksimum untuk tiap jenis TOEFL berbeda. Misalnya pada TOEFL jenis PBT yang menggunakan media kertas dalam proses pengujiannya, nilai atau skor maksimum untuk jenis TOEFL yang satu ini adalah 677.

Kisaran nilai atau skor pada TOEFL PBT tersebut berbeda dari kisaran skor TOEFL IBT yang skor maksimumnya hanya mencapai 120.

Dalam TOEFL, tidak ada istilah lulus atau tidak karena tujuan dari tes tersebut hanya untuk menguji serta mengukur kemampuan berbahasa Inggris. Namun, di Indonesia, tes TOEFL biasanya diambil untuk mendapatkan skor TOEFL tertentu yang dijadikan sebagai syarat mendaftar kuliah, mendaftar kerja, atau mengikuti suatu kegiatan penting di universitas.

Meski range skor yang diberikan berbeda-beda, metode atau cara penilaian TOEFL umumnya menggunakan metode konversi meski terkadang juga dikombinasikan dengan metode lain. Agar Anda dapat memaksimalkan skor yang didapat saat tes TOEFL, Anda sebaiknya mengetahui tentang sesi apa saja yang akan Anda jumpai di TOEFL.

  1. Listening

Di sesi listening TOEFL, peserta tas akan diminta untuk mendengarkan audio terlebih dahulu yang berupa pembicaraan yang dilakukan oleh native speaker kemudian peserta tes akan diminta untuk menjawab pertanyaan tersebut selama 90 menit. Saat sesi listening, peserta boleh membuat catatan tentang percakapan yang didengar.

Skor yang akan didapatkan peserta tes dari sesi ini adalah 25% dari total poin atau skor sebagai cara penilaian TOEFL. Artinya, peserta TOEFL wajib belajar sesi yang lain untuk mendapatkan skor yang lebih tinggi.

  1. Reading

Pada sesi reading alias sesi membaca, peserta tes TOEFL harus membaca teks yang terdiri dari 700 kata kurang lebih. Dari teks tersebut, pembaca harus menemukan informasi yang benar dan tepat untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

Pertanyaan yang diberikan berdasarkan tekst tersebut sehingga skor dari sesi reading sangat tergantung dari kemampuan peserta TOEFL dalam menangkap informasi yang ada di teks tersebut.

Waktu yang diberikan untuk mengerjakan sesi reading adalah 60 – 100 menit sehingga peserta tes TOEFL tidak disarankan untuk membaca seluruh teks, tetapi lebih direkomendasaikan untuk mencari pokok pragraf pada teks bacaan.

  1. Writing

Sebanyak 25% proporsi poin atau skor TOEFL didapatkan dari sesi writing yang dapat juga disebut sebagai sesi structure. Seperti namanya, peserta tes TOEFL akan diuji kemampuannya dalam memahami structure, grammar atau tata bahasa Inggris di sesi ini.

Sesi ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu tes gabungan dan independen. Kedua jenis tes ini memberikan beban atau tugas yang berbeda kepada peserta TOEFL. Misalnya, peserta TOEFL diminta untuk membaca serta mendengarkan suatu topik yang sama, kemudian menuliskan kesimpulan.

Tes tersebut merupakan tes gabungan, berbeda dengan tes independen yang menuntut peserta tes TOEFL untuk menuliskan sebuah essay dari topik yang telah ditentukan.

  1. Speaking

Sesi terakhir dari Tes TOEFL online adalah sesi speaking. Sesi ini menuntut peserta Tes TOEFL online untuk praktik berbicara menggunakan bahasa Inggris. Sistemnya, peserta akan diberikan pertanyaan dengan topik tertentu yang harus dijawab menggunakan sudut pandang peserta yang  bersangkutan.